Senin, 11 April 2016

Hubungan FIlm Iron Jawed Angles dengan Ilmu Sosial Dasar

Film Iron Jawed Angles berkaitan dengan mata kuliah Ilmu social dasar, yang menceritakan tentang kesamaan derajat wanita dengan pria. Alice paul dan teman-teman memperjuangkan hak asasi pilih wanita yang sebagai suatu cita-cita, mereka hanya ingin pendapatnya di dengar.
Setiap orang dan setiap warga Negara memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam memperoleh kehidupan. Manusia dan lingkungan memiliki hubungan timbale balik artinya masing-masing memiliki hak dan kewajiban sama besarnya. Setiap warga Negara khususnya Indonesia di jamin kebebasannya dalam memperoleh hak dan melaksanakan kewajibannya. Seperti ada di dalam Undang-Undang
Tertulis didalam Undang-Undang Dasar tahun 1945 bahwa:
1. Pasal 27 ayat 1 menetapkan bahwa segala sesuatu warga Negara yang bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung tinggi hokum dan pemerintahan tanpa kecuali.
2. Pasal 28 menetapkan bahwa kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan atau tulisan dan sebagainya di tetapkan oleh Undang-Undang.
3. Pasal 28 D
·         Setiap orang berhak atas pengakuan jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum
·          setiap orang berhak untuk bekerja  serta mendapat imbalan dan perlakuan yang layak dalam berhubungan kerja.
·          Setiap warga Negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.
·         Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan.
Didalam pasal-pasal  tersebut lah Alice dan teman-temannya menuntut. Maka dari itu bila kita merasa benar sebagai mana mestinya tidak perlu takut untuk menjunjung kebenaran. Dari film ini kita bisa belajar dan memahami tentang hak-hak asasi. Dan sebagaimana mestinya dulu di Indonesia juga ada sosok seperti di film ini yang pasti semua masyarakat tau yaitu Ibu Kartini.
Sumber

Resensi Film Iron Jawed Angels

Iron Jawed Angels adalah sebuah cerita yang berdasarkan dari para pegiat perempuan yaitu Alice Paul dan Lucy Burns, film pada tahun 2009. Film ini diawali dengan pertemuan Alice paul,Lucy Burn dengan Anna Howard Showel yang menjabat sebagai ketua National American Woman Suffarace Assosiation /NAWSA (Asosiasi Emansipasi Wanita) Alice dan Lucy berkeinginan untuk mendapatkan keinginan NAWSA dalam mengamandemen Undang-Undang mengenai hak pilih perempuan yang beranggapan mengenai ketidakpantasan kaum wanita yang menjunjung tinggi dalam politik,hamper terjadi di seluruh Negara bagian Amerika serikat pada saat itu. Hanya ada 9 negara bagian di Amerika Serikat yang telah memberikan hak politik bagi wanita untuk berpartisipasi dalm pemilu, pemberian hak politik bagi wanita di 9 negara bagian ini sudah berproses selama 64 tahun. Tujuan Alice Paul sangat jelas untuk pemberian hak politik kepada wanita Amerika agar ikut berpartisipasi dalam pemilu, tidak tahu apakah hak politik itu akan dipergunakan oleh wanita untuk tujuan tertentu. Tetapi yang pasti mereka harus mendapatkan hak tersebut karena meraka adalah warganegara yang mempunyai hak yang samasama antara pria dan wanita. Hak pilih yang dimiliki oleh seseorang akan memberikan akses untuk berpartisipasi dalam menentukan kebijakan pemerintah. Harus disadari bahwa suara yang di berikan pemilih,akan memunculkan seseorang yang berkuasa yang akan menentukan masadepan mereka. Alice dan Lucy melakukan perekrutan simpatisan untuk ikut bersama mereka melakukan aksi. Target mereka yang pertama adalah kelompok buruh perempuan. Pada awalnya kelompok perempuan melawan terhadap mereka. Namun kampanye Alice akhirnya menyadarkan mereka, Alice berkata: “kaum penguasa adalah pemilik suara, dan suara itulah hak pilih. Jika kamu tidak mempunyai hak pilih maka, tidak ada yang akan mendengarkan kamu.” Pemilihan strategi, waktu dan tempat yang tepat untuk melakukan hal ini dipikirkan secara matang oleh Alice untuk menarik perhatian media. Pada saat Alice sedang melakukan strategi, Alice bertemu dengan Inez Mulholland seorang pengacara buruh,dan mengajaknya untuk bergabung dan bersedia menjadi sosok utama. Strategi yang pertama adalah pelaksaan pawai yang bertepatan dengan pelantikan presiden Woodrow Wilson. Yang berpakaian ala dewi-dewi yunani, strategi ini berhasil menarik massa lebih banyak dibandingan dengan pelantikan presiden AS itu. Strategi yang kedua dengan berdemo di depan Gedung Putih Spanduk yang digunakan dalam berdemo yang bertulisan pidato-pidato yang dahulu pernah diucapkan oleh presiden-presiden AS sebelum masa presiden Woodrow Wilson.