Senin, 11 April 2016

Resensi Film Iron Jawed Angels

Iron Jawed Angels adalah sebuah cerita yang berdasarkan dari para pegiat perempuan yaitu Alice Paul dan Lucy Burns, film pada tahun 2009. Film ini diawali dengan pertemuan Alice paul,Lucy Burn dengan Anna Howard Showel yang menjabat sebagai ketua National American Woman Suffarace Assosiation /NAWSA (Asosiasi Emansipasi Wanita) Alice dan Lucy berkeinginan untuk mendapatkan keinginan NAWSA dalam mengamandemen Undang-Undang mengenai hak pilih perempuan yang beranggapan mengenai ketidakpantasan kaum wanita yang menjunjung tinggi dalam politik,hamper terjadi di seluruh Negara bagian Amerika serikat pada saat itu. Hanya ada 9 negara bagian di Amerika Serikat yang telah memberikan hak politik bagi wanita untuk berpartisipasi dalm pemilu, pemberian hak politik bagi wanita di 9 negara bagian ini sudah berproses selama 64 tahun. Tujuan Alice Paul sangat jelas untuk pemberian hak politik kepada wanita Amerika agar ikut berpartisipasi dalam pemilu, tidak tahu apakah hak politik itu akan dipergunakan oleh wanita untuk tujuan tertentu. Tetapi yang pasti mereka harus mendapatkan hak tersebut karena meraka adalah warganegara yang mempunyai hak yang samasama antara pria dan wanita. Hak pilih yang dimiliki oleh seseorang akan memberikan akses untuk berpartisipasi dalam menentukan kebijakan pemerintah. Harus disadari bahwa suara yang di berikan pemilih,akan memunculkan seseorang yang berkuasa yang akan menentukan masadepan mereka. Alice dan Lucy melakukan perekrutan simpatisan untuk ikut bersama mereka melakukan aksi. Target mereka yang pertama adalah kelompok buruh perempuan. Pada awalnya kelompok perempuan melawan terhadap mereka. Namun kampanye Alice akhirnya menyadarkan mereka, Alice berkata: “kaum penguasa adalah pemilik suara, dan suara itulah hak pilih. Jika kamu tidak mempunyai hak pilih maka, tidak ada yang akan mendengarkan kamu.” Pemilihan strategi, waktu dan tempat yang tepat untuk melakukan hal ini dipikirkan secara matang oleh Alice untuk menarik perhatian media. Pada saat Alice sedang melakukan strategi, Alice bertemu dengan Inez Mulholland seorang pengacara buruh,dan mengajaknya untuk bergabung dan bersedia menjadi sosok utama. Strategi yang pertama adalah pelaksaan pawai yang bertepatan dengan pelantikan presiden Woodrow Wilson. Yang berpakaian ala dewi-dewi yunani, strategi ini berhasil menarik massa lebih banyak dibandingan dengan pelantikan presiden AS itu. Strategi yang kedua dengan berdemo di depan Gedung Putih Spanduk yang digunakan dalam berdemo yang bertulisan pidato-pidato yang dahulu pernah diucapkan oleh presiden-presiden AS sebelum masa presiden Woodrow Wilson.
Usaha ini berhasil menarik perhatian media dan masyarakat, demo ini tidak bertentangan dengan hukum karena dilakukan secara damai dan spanduk berisi kalimat-kalimat dari penggalan pidato para pemimpin AS. Dan aksi ini telah mengundang perhatian media dan pemberitaan terhadap aksi yang berpengaruh terhadap pencitraan AS di luar negri. Dimana AS adalah Negara yang mencitrakan dirinya sebagai Negara demokratis, dan pada saat penangkapan Alice yang dilakukan atas nama kepentingan AS. Selama di penjara wanita ini mendapatkan perlakuan yang sangat buruk. Mereka melakukan aksi mogok makan untuk mendukung perjuangan mereka, tetapi pihak penjara melakukan pemaksaan makan dengan cara memasukkan adonan susu dan telur mentah melalui selang kedalam mulutnya. Perlakuan buruk itu akhirnya bocor ke media dan memperoleh tanggapan luas di masyarakat.Tetapi penangkapan ini justru semakin memperkuat posisi Alice dan meningkatkan isu perempuan dalam berpolitik di publik .Tekanan rakyat membuat Alice dapat keluar dari penjara dan akhirnya presiden Woodrow Wilson untuk berpidato mengenai hak wanita dan memberikan dukungan dengan mengatakan bahwa penahanan tersebut tidak sesuai Undang-undang  di depan masyarakat. Tanggal 26 Agustus 1920, Amandemen ke-19 Konstitusi Amerika, resmi menjadi UU sehingga wanita Amerika secara resmi mendapatkan hak suara yang sama dengan pria dalam pemilu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar