Jumat, 20 Mei 2016

Resensi Film The Persuit of Happyness

Resensi Film The Persuit of Happiness
Film The persuit of Happniess ini yang terinspirasi dari kisah nyata Chris Gardner seorang salesman yang berhasil menjadi pialang saham kaya di Amerika. Lewat sutradara Gabriele Muccino dan scenario yang di tulis oleh Steve Conrad, benar-benar menceritakan kehidupan,yang mengejar sebuah cita-cita, cara menghargai waktu dan lebih mendahulukan kepentingan orang lain dibanding ke pentingan diri sendiri. Yang dalam durasinya hampir dua jam, saya melihat Chris Garden (Will Smith) dan anaknya Crishtopher (Jaden Smith) yang berulang kali jatuh bangun. Ketika Chris naik taksi dengan Jay Twistle seorang manajer Dean Witter, Chris berusaha menarik perhatian Jay dengan permainan rubik yang tidak dapat diselesaikan oleh Jay. Chris pun berhasil menyelesaikan rubik tersebut, sayangnya meskipun berhasil Chris tidak memiliki cukup uang untuk membayar taksi. Chris pun melarikan diri dari sopir taksi, lagi-lagi meskipun berhasil melarikan diri portable-bone-scanner miliknya tertinggal di stasiun kereta. Dan alat tersebut diambil oleh gelandangan stress yang mengira bahwa potable-bone-scanner milik chris adalah time machine,alias mesin waktu. Esok harinya Chris berhasil masuk di Dean Witter Reynolds dan mengikuti program internship yang tanpa bayaran, meskipun begitu Chris tetap bekerja dengan maksimal dan berusaha disiplin serta menjaga kreadibilitas dan tetap  menjual seluruh portable-bone-scannernya yang masih tersisa, serta berusaha maksimal mengemban tugas sebagai orang tua tunggal bagi anak lelakinya. Sampai akhirnya bank tempat Chris menyimpan uangnya,mengambil seluruh uang milik Chris karena menunggak pajak. Chris pun menjadi bangkrut, dengan hanya mengantongi uang sebanyak 21 dollar,dan harus bertahan hidup tanpa rumah,tanpa mobil dan bekerja sambilan menjual portable-bone-scanner, sampai akhirnya dia dan anaknya tekadang menggelandang atau tinggal di penampungan. Chris pun akhirnya bertemu lagi dengan gelandangan yang pernah mengambil portable-bone-scannernya dan mengambilnya kembali. Sayangnya alat tersebut sudah rusak. Namun Chris berhasil membetulkannya dan dia mendapatkan uang dari hasil penjualan alat tersebut. Garis besar peristiwanya adalah jika portable-bone-scannernya tidak diambil oleh gelandangan stress, mungkin Chris benar-benar tidak punya harapan untuk meneruskan program internshipnya yang tersisa kira- kira dua bulan. Tapi ternyata di balik kesulitan yang dialaminya,selalu ada hikmahnya. Selain itu karena uangnya yang habis untuk membayar tunggakan pajaknya Chris justru mendapatkan ide untuk menjual produk perusahaannya, mungkin inilah alasan Sutradara film ini memasukkan adegan percakapan antara Chris dengan Christopher”Hey don’t ever let somebody tell you… you can’t do something. Not even me. All right? Christopher: All right,you got a dream… you gotta protect it. People can’t do something themselves, they wanna tell you can’t do it. If you want something,go get it”. Chris mampu bertahan dalam kondisi persaingan ketat pekerjaan yang sangat padat karena keluarga adalah sumber terbesar kebahagiaan, meski Chris harus di tinggal oleh pasangannya linda (Linda Gardner), namun dia memiliki sumber kekuatan kebahagiaan lainnya yakni anaknya. Christopher menjadi teman kala duka dan derita selama menjalani masa-masa sulit. Namun ketika Chris bersama anaknya muncul interaksi yang ceria dan menyenangkan dan keluarga akan menjadi penyembuh luka bagi luka-luka tersebut. Chris akhirnya berhasil di terima sebagai stockbroker di Dean Witter Reynolds dan inilah awal mula kebahagiaan Chris, sebuah pencapaian luar biasa atas usaha kerasnya, pilihannya untuk mencari kehidupan yang lebih baik untuk anaknya Christopher. Disitulah point seorang Chris Gardner kebahagiaan yang terlihat singkat di bandingkan perjuangan dan penderitaan yang di alaminya. Kebahagiaan sejati yang di rasakan bagi orang yang memang berjuang untuk mencapai cita-citanya tanpa rasa menyerah.
Sumber:
https://warungbaksosabar.wordpress.com/2011/08/24/resensi-film-the-pursuit-of-happyness/






Tidak ada komentar:

Posting Komentar