Resensi
Film The Persuit of Happiness
Film The persuit of
Happniess ini yang terinspirasi dari kisah nyata Chris Gardner seorang salesman
yang berhasil menjadi pialang saham kaya di Amerika. Lewat sutradara Gabriele
Muccino dan scenario yang di tulis oleh Steve Conrad, benar-benar menceritakan
kehidupan,yang mengejar sebuah cita-cita, cara menghargai waktu dan lebih
mendahulukan kepentingan orang lain dibanding ke pentingan diri sendiri. Yang
dalam durasinya hampir dua jam, saya melihat Chris Garden (Will Smith) dan
anaknya Crishtopher (Jaden Smith) yang berulang kali jatuh bangun. Ketika Chris
naik taksi dengan Jay Twistle seorang manajer Dean Witter, Chris berusaha
menarik perhatian Jay dengan permainan rubik yang tidak dapat diselesaikan oleh
Jay. Chris pun berhasil menyelesaikan rubik tersebut, sayangnya meskipun
berhasil Chris tidak memiliki cukup uang untuk membayar taksi. Chris pun
melarikan diri dari sopir taksi, lagi-lagi meskipun berhasil melarikan diri
portable-bone-scanner miliknya tertinggal di stasiun kereta. Dan alat tersebut
diambil oleh gelandangan stress yang mengira bahwa potable-bone-scanner milik
chris adalah time machine,alias mesin waktu. Esok harinya Chris berhasil masuk
di Dean Witter Reynolds dan mengikuti program internship yang tanpa bayaran,
meskipun begitu Chris tetap bekerja dengan maksimal dan berusaha disiplin serta
menjaga kreadibilitas dan tetap menjual
seluruh portable-bone-scannernya yang masih tersisa, serta berusaha maksimal
mengemban tugas sebagai orang tua tunggal bagi anak lelakinya. Sampai akhirnya
bank tempat Chris menyimpan uangnya,mengambil seluruh uang milik Chris karena
menunggak pajak. Chris pun menjadi bangkrut, dengan hanya mengantongi uang
sebanyak 21 dollar,dan harus bertahan hidup tanpa rumah,tanpa mobil dan bekerja
sambilan menjual portable-bone-scanner, sampai akhirnya dia dan anaknya
tekadang menggelandang atau tinggal di penampungan. Chris pun akhirnya bertemu
lagi dengan gelandangan yang pernah mengambil portable-bone-scannernya dan
mengambilnya kembali. Sayangnya alat tersebut sudah rusak. Namun Chris berhasil
membetulkannya dan dia mendapatkan uang dari hasil penjualan alat tersebut.
Garis besar peristiwanya adalah jika portable-bone-scannernya tidak diambil
oleh gelandangan stress, mungkin Chris benar-benar tidak punya harapan untuk
meneruskan program internshipnya yang tersisa kira- kira dua bulan. Tapi
ternyata di balik kesulitan yang dialaminya,selalu ada hikmahnya. Selain itu
karena uangnya yang habis untuk membayar tunggakan pajaknya Chris justru mendapatkan
ide untuk menjual produk perusahaannya, mungkin inilah alasan Sutradara film
ini memasukkan adegan percakapan antara Chris dengan Christopher”Hey don’t ever
let somebody tell you… you can’t do something. Not even me. All right?
Christopher: All right,you got a dream… you gotta protect it. People can’t do
something themselves, they wanna tell you can’t do it. If you want something,go
get it”. Chris mampu bertahan dalam kondisi persaingan ketat pekerjaan yang
sangat padat karena keluarga adalah sumber terbesar kebahagiaan, meski Chris
harus di tinggal oleh pasangannya linda (Linda Gardner), namun dia memiliki sumber
kekuatan kebahagiaan lainnya yakni anaknya. Christopher menjadi teman kala duka
dan derita selama menjalani masa-masa sulit. Namun ketika Chris bersama anaknya
muncul interaksi yang ceria dan menyenangkan dan keluarga akan menjadi
penyembuh luka bagi luka-luka tersebut. Chris akhirnya berhasil di terima
sebagai stockbroker di Dean Witter Reynolds dan inilah awal mula kebahagiaan
Chris, sebuah pencapaian luar biasa atas usaha kerasnya, pilihannya untuk
mencari kehidupan yang lebih baik untuk anaknya Christopher. Disitulah point
seorang Chris Gardner kebahagiaan yang terlihat singkat di bandingkan
perjuangan dan penderitaan yang di alaminya. Kebahagiaan sejati yang di rasakan
bagi orang yang memang berjuang untuk mencapai cita-citanya tanpa rasa
menyerah.
Sumber:
https://warungbaksosabar.wordpress.com/2011/08/24/resensi-film-the-pursuit-of-happyness/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar